Thursday, May 2, 2013

cerita pendek


Cerpen

GARA-GARA SEPEDA BUTUT

            Jarum jam menunjukkan pukul 06.20...
            Aku baru saja selesai mandi. Dengan tergesa-gesa aku menuju kamarku untuk segera memakai seragam. Aku kalang kabut karena jarum jam terus berjalan. Hari ini upacara akan dimulai jam 06.45. Artinya, 25 menit lagi upacara akan dimulai. Padahal jarak rumahku sampai sekolah + 6 km, dan aku butuh waktu 15 menit untuksampai ke sekolah.
            Pukul 06.30 aku sudah siap untuk berangkat. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil sepeda kesayanganku, sampai-sampai aku hampir lupa berpamitan pada orang tuaku.
            “Yuka... tunggu dulu! Ini bekal untuk di sekolah,” suara ibu menghentikan langkahku. Akupun menengok ke belakang. Kulihat ibu membawa kotak bekalku yang rupanya telah terisi penuh oleh masakan ibu.
            “Oh iya, Yuka sampai lupa. Makasih, bu! Yuka berangkat dulu,” jawabku sambil meraih kotak bekal di tangan ibu.
            “Ya sudah, hati-hati! Jangan ngebut lho...,” ucap ibu.
            “Iya. Assalamu’alaikum,” ucapku seraya mencium tangan ibu.
            “Wa’alaikumsalam,” jawab ibu yang segera berlalu ke dalam rumah.
            Aku segera mengayuh sepedaku dengan lincah. 1 menit, 3 menit... 8 menit sudah aku mengayuh sepeda ini. Aku baru mencapai setengah perjalanan. Aku terus mengayuh dan mengayuh lagi. Entah kenapa, sepeda ini rasanya berat sekali. Semakin kukayuh malah semakin berat saja. Dan aku terkejut karena tiba-tiba sepeda ini tidak bisa berjalan. Kedua rodanya tak mau berputar. Aku bingung bukan main. Keringat dingin mulai bercucuran. Tidak biasanya sepedaku seperti ini. Kali ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
            Sementara kau mengotak-atik sepeda, jarum jam terus berputar. Pukul 06.40...
            Jantungku berdebar lebih cepat. Aku mulai lemas karena usahaku mengotak-atik sepeda ini sia-sia. Aku menengok ke kanan dan ke kiri berharap ada bengkel di dekat sini. Pucuk dicinta ulampun tak kunjung tiba. Sepertinya hari ini aku benar-benar akan telat. Sama sekali tidak ada bengkel. Akhirnya, aku menitipkan sepedaku di warung yang tidak jauh dari tempatku membawa sepeda.
            Aku mulai berjalan menuju sekolah. Aku hanya bisa pasrah jika nanti harus dihukum di depan semua murid. Berdiri di bawah tiang bendera sampai jam pertama berakhir. Oh, tidak! Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Menjadi tontonan murid satu sekolah. Tidak, tidak, tidak... Pikiranku mulai kacau tak karuan.
            “Hufft... Kenapa tidak ada yang lewat ya?! Kalau ada temanku yang lewat kan, aku bisa nebeng,” desahku masih terus melangkahkan kaki ini.
            Kali ini aku mempercepat langkahku. Setidaknya, aku tidak boleh telat lama-lama. Semakin cepat, cepat, dan bertambah cepat. Kira-kira sudah 10 menit lamanya aku berjalan.
            Akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah. Kuhentikan langkahku. Kupandangi teman-teman dan adik kelasku yang masih berkeliaran di halaman sekolah.
            “Apa aku sedang berhalusinasi?! Kenapa mereka masih berkeliaran begitu?!” pikirku dengan masih berdiri di depan gerbang. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara yang tak asing lagi bagiku.
            “Yuka... Lagi lihatin apa sih?” tanya Lea, teman baikku menagetkanku.
            “Eh, ee... enggak. Lea, kok masih  pada keliaran gitu sih? Emang hari ini gak upacara ya?!” tanyaku penasaran.
            “Enggak. Hari ini gak upacara. Emangnya kenapa?” balasnya menatapku heran.
            “Oh, gak pa pa kok,” aku tersenyum lega. Aku pikir hari ini akan menjadi hari buruk bagiku. Ternyata, keadaan masih berpihak padaku. Hahh, leganya...
            “Ya udah, ayo masuk... Bentar lagi mau bel nih,” ajak Lea yang langsung menarik tanganku.
            Akupun hanya menurut. Sesampainya di kelas, aku meletakkatasku di meja. Fufft... Aku menghembuskan nafas lega. Hari ini aku bisa mengikuti pelajaran dengan tenang. Semua beban rasanya lepas. Untung saja, hari ini tidak diadakan upacara. Kalau tidak, jadilah aku berdiri di bawah tiang bendera. Hhee... Terimakasih Tuhan...

-End-


PERJALANAN SEPASANG MERPATI CANTIK

            Hari ini langit begitu cerah. Mentaripun seolah tak mau kalah untuk menerangi dunia. Cahayanya menerobos masuk melalui celah-celah kecil kamarku. Perlahan mulai menyapa hangat kulit wajahku. Membuatku harus rela melepas bunga tidurku.
            Oya, perkenalkan, namaku Amanda Nur Rahma, biasa dipanggil Manda. Aku adalah anak semata wayang. Ayah dan Ibuku merupakan salah satu pengusaha terkenal di Bandung (Hhe… bukan bermaksud sombong ya…). Aku punya seorang teman bernama Melati Fi Laila. Kami sudah berteman sejak masuk SMP. Bukan hanya teman atau sahabat, Ia sudah kuanggap seperti saudaraku.
            Melati itu orangnya gokil, cantik, asyik, baik, pintar lagi… (Eh, tapi aku juga gak kalah cantik dan pintar kok, hhee…). Sifat kami hampir sama, Cuma aku itu lebih ceroboh dan grusa-grusu dalam menghadapi sesuatu. Bahkan sampai SMA-pun, aku selalu merepotkan Melati dengan kecerobohanku. Saat ini aku dan Melati duduk di bangku SMA, tepatnya SMAN 7 Bandung kelas 2 IPA. Di kelas kami duduk sebangku, kerja kelompok bersama, kemana-mana berdua, pokoknya kayak sepasang kekasih deh… (Eits, tapi bukan berarti kami “jeruk makan jeruk” ya… Hhee…).
            Sampai suatu ketika, ada murid baru pindahan dari SMA Pelita Jaya yang masuk di kelas kami, namanya Wanda.
            “Manda… aku pengen ngomong sama kamu,” Melati menepuk bahuku dari belakang.
            “Mau ngomong apa sih, Mel? Biasanya juga langsung bilang,” aku yang sedang membaca novel menghentikan kegiatanku sejenak.
            “Manda, kamu ngerasa gak sih, ada yang beda dari kita sekarang,” kata-kata Melati mulai membuatku bingung.
            “Uhm… Maksudnya?!” tanyaku dengan ekspresi bingung.
            “Aku ngerasa, sekarang kamu lebih deket sama Wanda. Bahkan kerja kelompokpun kamu lebih sering sama Wanda”.
            “Mel, kita ini kan sahabat… Jadi sampai kapanpun akan tetap begitu. Kamu percaya kan?” tanyaku dengan wajah serius.
            “Iya, aku percaya…,” senyumnya mwembuatku sedikit lebih lega.
            “Manda… nanti pulang sekolah anterin aku kemall ya…,” Wanda menghampiriku dan Melati.
            “Aduh, gimana ya?! Hari ini aku mau pergi sama Melati. Lain kali aja ya…,” aku yang memeang ada janji dengan Melati tak ingin membuatnya kecewa.
            “Emang mau kemana sih?! Melati kan bisa pergi sendiri. Iya kan, Mel?” Wanda terlihat agak sinis pada Melati. Entah apa yang terjadi diantara mereka, aku tidak begitu mengerti.
            “Uhm… Manda, kalau kamu mau pergi sama Wanda, pergi aja!” Melati mennatapku dengan tatapan sayu.
            “Enggak lah, Mel… Aku gak mau kamu nanti pergi sendirian”
            “Dan Wanda, aku udah ada janji sama Melati. Kamu ngerti’in kita dong… Atau aku mau nganterin kamu tapi ajak Melati juga,” aku menatap mereka berdua bergantian.
            “Enggak…..,” Wanda menjawab dengan setengah berteriak.
            “Udahlah, Nda... Kamu pergi aja sama Wanda,” Melati tersenyum dan segera berlalu meninggalkan aku dan Wanda.
            Akhirnya, mau tak mau aku terpaksa mengantarkan Wanda. Sejak saat itu, Melati sudah jarang main ke rumah. Kami sudah tak seakrab dulu lagi. Setiap kali kudekati, Ia selalu menghindar. Kutelfon pun jarang diangkat. Sampai suatu ketika, aku memberanikan diri berbicara padanya setelah pulang sekolah.
            “Melati, tunggu...,” aku berteriak memanggilnya.
            “Ada apa sih?! Aku mau pulang, kalau pengen ngomong besok aja,” Ia kembali meneruskan langkahnya.
            “Tunggu, Mel...,” aku menarik tangan Melati.
            “Udah deh... Mau ngomong masalah apa sih?! Aku gak punya waktu buat dengerin hal-hal yang gak penting,” ucap Melati dengan emosi.
            “Kenapa sikap kamu berubah sih?! Ok fine, aku minta maaf kalau selama ini aku lebih sering pergi sama Wanda. Tapi bukan berarti aku gak peduli sama kamu Me...,” aku mulai meneteskan air mata.
            “Bukan aku yang berubah, tapi kamu! Selama ini aku berusaha untuk percaya sama kamu. Tapi buktinya apa? Kamu udah benar-benar berubah. Kamu lebih nurutin omongannya Wanda daripada aku!” Melati menangis dan berlari menyeberang jalan. Pikirannya yang sedang kalut membuatnya tak menyadari jika ada mobil yang melintas dengan kecepatan penuh.
            “Awas, Mel...,” aku berlari dan mendorongnya ke tepi jalan. Dan...
Braakk...
            “Manda...,” Melati menjerit dan menghambur ke arahku.
            Orang-orang yang ada di sekitarpun mengerumuni tempat kejadian. Aku yang tak sadarkan diri langsung dilarikan menuju rumah sakit.
            Setelah menjalani operasi kecil, akhirnya akupun sadar. Perlahan aku mencoba membuka mata. Semuanya putih dan samr-samar. Aku merasa sebuah cairan masuk ke dalam tubuhku. Beberapa orang di sampingku mulai terlihat jelas. Ternyata aku di rumah sakit. Ayah, ibu, dan... Melati...
            “Alhamdulillah... Akhirnya kamu sadar manda. Kami semua mencemaskanmu,” Ibu tersenyummelihat aku sudah sadar.
            “Maaf ya... Manda buat kalian semua cemas,” kataku sedikit terbata-bata.
            “Enggak, Nda... Kamu gak perlu minta maaf. Aku yang harus minta maaf. Ini semua gara-gara aku, Nda... Maafin aku...,” Melati menggenggam erat tanganku.
            “Iya... Aku juga minta maaf... Harusnya aku bisa ngerti’in perasaan kamu. Sekarang kamu udah gak marah sama aku, kan?!” tanyaku pada Melati.
            “Ya enggak lah... Dan mulai sekarang, gak ada yang bisa misahin kita lagi. Soalnya, kita ini...”
            “Sepasang Merpati Cantik yang akan selalu bersama menjelajahi dunia,” ucapku dengan Melati bersamaan.
            “Dan sahabat tetaplah sahabat... Sampai kapanpun akan tetap begitu,” ucapku menambahkan.
            Kamipun tertawa bersama. Dinding putih rumah sakit menjadi saksi bisu persahabatan kami. Cahaya yang menerobos masuk melalui jendela seolah ikut menerangi indahnya persahabatan kami. Dan berkas cahaya itu akan selalu menerangi langkah kami. Bukan untuk sementara, tapi selamanya... Bukan sampai disini, tapi sampai mati...


-End-

Arti Kasih Sayangmu Bagiku

Hai sobat…
Perkenalkan, namaku Mawar Rizqi Imanda. Ibuku adalah pemilik butik ternama di Bandung dan ayahku juga merupakan salah satu pengusaha terkenal di Bandung. Aku mempunyai saudara kembar yang bernama Melati Rizqi Amanda. Kami sekarang duduk di bangku SMA Tunas Bangsa kelas 3. Aku masuk kelas 3 IPS sedangkan Melati duduk di kelas 3 IPA. Perlu kalian ketahui sobat, biarpun kami kembar tapi kami punya karakter dan sifat yang berbeda 180o. Aku yang cenderung tomboy, cerewet, nakal, manja, kasar, dan pemalas berbeda sekali dengan Melati yang lebih dewasa, baik, sopan, ramah, rajin, mandiri, dan tentunya cantik dan pintar. (Eh, tapi aku juga gak kalah cantik dan pintar kok,, hhe). Tapi aku akui, Melati itu lebih pintar dariku. Makanya Ia bisa masuk kelas IPA. Melati itu orangnya pendiam dan gak banyak bicara. Dan itu membuat cowok-cowok satu sekolah mati penasaran karnanya. Sudah banyak cowok yang ngedeketin Melati, tapi setahuku selalu ditolak dengan alas an pengen fokus sekolah. Padahal cowok yang ngedeketin Melati tuh gak cuma ganteng keren tapi juga juara kelas. Bahkan salah satu cowok paling popular dan udah berkali-kali mewakili sekolahpun bernasib malang kayak yang lain, alias ditolak juga. Huft……… bener-bener deh…
Tapi aku sangat bangga punya saudara kayak Melati. Amat sangat bangga sekali… Hhe,, lebay...
            Sampai suatu ketika, ada anak baru pindahan dari SMU Tunas Mulia Surabaya, namanya Reza. Wajahnya yang ala-ala Korea itu bikin murid-murid cewek satu sekolah klepek-klepek, termasuk aku. Tapi pengecualian buat si Melati. Postur tubuh yang tinggi dengan kulitnya yang putih persis kayak orang Korea itu menambah pesona bagi murid cewek. Wow…
Tapi sayangnya Reza tidak sau kelas denganku. Ia satu kelas dengan Melati. Awalnya aku sedikit putus asa karena Reza tidak satu kelas denganku, tapi mulai muncul secercah harapan di benakku. Aku pikir, Melati bisa membantuku mendekati Reza. Ya… aku mulai lega akan hal itu.
            Awalnya Melati setuju akan rencanaku dan bersedia membantuku. Akupun sering pergi jalan dengan Reza atas bantuan Melati. Ia juga mendukungku. Tapi lama-kelamaan aku merasa Reza lebih dekat dengan Melati daripada aku. Walaupun selama ini Melati tidak pernah tertarik dengan urusan cowok, tapi aku mulai merasa takut jika Melati juga menyukai Reza. Karena sepertinya Melati lebih terbuka jika dengan Reza. Bahkan Ia sempat berkata padaku,
            “Mawar, ternyata Reza itu beda ya…,” tiba-tiba Melati mengatakan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tapi aku berusaha menanggapinya dengan sewajarnya.
            “Iya… Tapi kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu sih? Bukannya selama ini kamu paling ogah sama urusan cowok ya?!”tanyaku menyelidik.
            “Uhm,,, emangnya aku salah ya, kalau aku juga pengen punya temen cowok. Selama ini kan, aku selalu menutup diri”.
            “Gak salah sih… Cuma aneh aja. Tapi ya udah lah, gak usah dipikirin. Aku ngantuk nih, tidur duluan ya…,”ucapku seraya membalikkan tubuhku memunggungi melati.
            “Hm…”.
            Setelah itu percakapan berakhir. Aku sempat melihat Melati tersenyum sendiri membayangkan sesuatu yang entah apa itu. Aku berpikir positif saja. Aku rasa hal itu wajar-wajar saja bagi remaja SMA. Tapi semakin lama, aku melihat Melati sering jalan berdua dengan Reza. Mereka juga kelihatan enjoy satu sama lain. Aku mulai merasa iri dengan Melati. Tapi aku selalu mencoba menghilangkan rasa iri itu. Karena bagaimanapun juga Melati adalah saudaraku. Tidak mungkin Ia tega menyakitiku, terlebih dia tahu kalau aku menyukai Reza. Dan puncaknya adalah pada malam itu…
            “Melati, aku pengen ngomong jujur sama kamu,”ucap Reza tampak serius.
            “Mau ngomong apa, Za? Serius banget…,” tanya Melati dengan senyum khasnya itu.
            Perlahan Reza memegang tangan Melati,,,
            “Mel, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Aku pengen hubungan kita lebih dari sekedar teman atau sahabat.”
            Deg...
            Aku yang saat itu sedang mencari udara segardi luar tidak sengaja mendengar percakapan itu. Aku tertegun... Kakiku serasa lemas dan sulit digerakkan. Air mataku jatuh tak terbendung. Namun, aku berusaha tenang karena Melati belum memberikan jawaban.
            “Kamu bercanda kan, Za? Aku tau Mawar itu suka sama kamu... Mana mungkin aku bisa melakukan itu?!” Melati mulai terisak menahan tangis.
            “Aku tau Mel... Tapi kamu gak bisa paksa aku buat suka sama Mawar. Aku yakin Mawar bisa dapetin yang lebih dari aku. Aku juga yakin dia gak akan marah kalau kamu terima aku,” kata-kata Reza mulai membuatku teriris. Orang yang kusukai ternyata menyukai saudaraku sendiri.
            “Tapi, gimana kalau Mawar marah dan jadi benci sama aku?! Aku sayang sama dia. Aku gak mau buat dia sedih. Mawar sangat berarti buat aku, Za...,” ucap Melati semakin terisak.
            Reza langsung memeluk Melati. Aku yang saat itu sedang terpukul dan gundah tidak begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Melati. Perasaanku yang bercampur-aduk ini membawaku melangkah mendekati mereka.
            Aku yang terbawa emosi langsung menarik Melati dari Reza hingga membuatnya terjatuh. Melati yang menyadari keadaanku saat itu tersentak kaget.
            “Mawar?! Kenapa kamu dorong aku? Kamu harus denger penjelasan aku dulu...,” Melati mencoba bangkit untuk berdiri.
            “Penjelasan apa lagi, Mel?! Kamu tau kan kalau aku suka sama Reza! Kenapa kamu lakuin ini ke aku?! Diam-diam kamu juga suka kan sama Reza?!” emosiku meledak-ledak.
            “Enggak Mawar... Kamu denger dulu...”
            “Halah... Harusnya kamu bilang dari dulu, Mel. Jadi aku gak akan ngerasain sakit ini,” aku mmotong ucapan Melati.
            Setelah aku berdebat hebat dengan Melati, aku berlari tanpa menyadari ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan penuh, dan...
            Braakkk....
            “Melatiii......,” suara Reza terngiang di telingaku.
            Aku baru sadar jika Melati mendorongku ke pinggir jalan sehingga Ialah yang tertabrak mobil itu. Tubuhku gemetaran... Aku berusaha mendekat ke arah Melati.
            Dengan terbata-bata, Melati sempat berkata sesuatu padaku,
            “Mawar,, maafin aku ya... Aku gak bermaksud menyakiti kamu...,” aku menangis sambil memegang tangan Melati.
            “Iya Mawar,, sebenarnya tadi Melati nolak aku dan itu demi kamu...,” Reza juga ikut menjelaskan dengan suara parau.
            “Jadi... kalian gak jadian?” tanyaku kaget.
            “Enggak Mawar...,” kata Melati terbata-bata.
            Setelah semuanya jelas, aku sangat menyesal telah menuduh Melati yang bukan-bukan. Aku menangis sejadi-jadinya dan minta maaf padanya. Tak lama kemudian ayah dan ibu datang bersamaan dengan ambulance. Pada saat yang bersamaan Melati mengucapkan kata-kat terakhirnya,
            “Ayah, ibu, Mawar, Reza... Makasih buat semuanya ya... Kalian sangat berarti di hidupku...”
            Melati menghembuskan nafas terakhirnya. Walaupun berat, kami semua berusaha mengikhlaskan kepergian Melati.
            “Melati... Biarpun raga kita jauh, tapi hati kita tetap satu... Aku janji akan menjadi orang yang lebih baik dari ini. Kami disini menyayangi Melati... Selamat jalan... Semoga kau tenang dan bahagia disana...”.
            Itulah kata-kata terakhir yang sempat kuucapkan. Sejak saat itu, aku mulai mengerti dan menyadari bahwa Melati sangat menyayangiku. Kasih sayangnya begitu besar untukku. Seorang saudara yang mengasihiku lebih dari apapun. Saudara yang akan selalu kukenang sampai akhir hayatku. Dan karnanya, aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan mengerti akan arti kasih seorang saudara itu... Thanks Mel...

-End-


Thursday, April 25, 2013

Buat Hari senin


wujud kerjasama internasional antara lain :
1.     MEE,(Masyarakat Ekonomi Eropa)
 MEE beranggotakan 15 negara yaitu: Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Luxemburg, Italia, Inggris, Irlandia, Denmark, Yunani, Spanyol, Portugal, Austria, Finlandia, Swedia.
 Tujuan MEE:
 1.         Integrasi Eropa dengan cara memajukan perekonomian, memperbaiki taraf      hidup dan memperluas lapangan kerja.
 2.         Memajukan perdagangan dan menjamin' adanya persaingan bebas dan keseimbangan perdagangan antara negara anggota.
 3.         Menghapuskan semua halangan yang menghambat lajunya perdagangan internasional.
4.         Memperluas hubungan dengan negara-negara di luar PBB.
 2.       OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries)
 Negara Timur Tengah berusaha merebut pasaran minyak internasional dengan mengadakan perundingan tanggal 11-14 September 1960 di Bagdad (Irak) dan sepakat mendirikan OPEC yang anggotanya mula-mula Saudi Arabia, Irak, Iran, Kuwait dan Venezuela. Keanggotaan OPEC bersifat terbuka bagi negara-negara penghasil minyak. Indonesia menjadi anggota OPEC tahun 1962. Pada tahun 1979 anggota OPEC menjadi 13 negara.
Tujuari OPEC meliputi 2 hal yaitu:
1)                                        Tujuan ekonomi, yaitu mempertahankan/menentukan harga minyak sehingga menguntungkan negara-negara produsen
2)                                          Tujuan politik, yaitu mengatur hubungan dengan perusahaan-perusahaan minyak asing atau pemerintah negara-negara konsumen.
3.     APEC (AsiaPacific Economic Cooperation)
APEC berdiri pada bulan November 1989 di Australia, semula dimaksudkan sebagai forum komunikasi konsultasi ekonomi di antara 12 negara Asia Pasifik, antara lain: Thailand, Filipina, Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru.
Tujuan APEC:
1)     Menjalin kerjasama ekonomi antarbangsa di Asia Pasifik yang semakin erat atas dasar saling menguntungkan.
 2)     Meningkatkan hubungan kerjasama ekonomi bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama
 3)     Memperkuat kemampuan masing-masing dan kemampuan anggotanya untuk memperjuangkan kepentingan bersama termasuk dalam forum multilateral yang lebih luas
4.        CGI (Consultative Group on Indonesia)
 Negara yang tergabung dalam CGI adalah Australia, Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Selandia Baru, Swiss, Inggris dan Amerika Serikat.
Tujuan CGI adalah membantu pembangunan Indonesia untuk pengembangan berbagai proyek di Indonesia. Bantuan berupa pinjaman itu hams melalui angsuran dalam jangka waktu 30 sampai 50 tahun
. Anggota CGI terdiri atas badan-badan internasional dan negara-negara maju. Badan internasional yang membantu CGI, antara lain: Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, Kuwait Fund, Saudi Fund, IDB (Islamic Development Bank), FAO, UNICEF, Nordic Investment Bank, EIB (European Invesment Bank) Negara yang mendukung adalah Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Austria, Inggris, Belgia, Perancis, Selandia Baru, Denmark, Swiss, Finlandia, Republik Korea, Swedia, Spanyol, Australia, Kanada, Norwegia dan Italia
5.      OKI (Organisasi Konferensi Islam)
 Organisasi diprakarsai oleh Raja Faisal bin Abdul Aziz dan didirikan oleh beberapa negara Islam yaitu Maroko, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Somalia dan Nigeria. Pendirian OKI dibicarakan dalam KTT OKI ke-1 negara-negara Islam di Rabat (Maroko) pada tahun 1969. Sekarang OKI terdiri dan 46 negara.
 Organisasi ini didirikan dengan berbagai tujuan seperti berikut..
 1)    Memajukan solidaritas Islam di antara negara-negara anggota
2)    Memperkuat kerjasama antara Negara-negara dalam bidang ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan bidang-bidang lainnya, serta mengadakan perundingan
3)    Megupayakan seoptimal mungkin untuk menghilangkan pemisahan rasial, diskriminatif serta menghilangkan kolonialisme dalam segala bentuk
4)    Menyokong segala kegiatan dan usaha-usaha perdamaian dunia, dan menciptakan keamanan bersama demi tercapainya keadilan social
 5)    Mengatur usaha untuk melindungi tempat-tempat suci, menyokong perjuangan rakyat Palestina, dan membantu rakyat Palestina untuk memiliki kembali hak-hak mereka untuk membebaskan tanah Palestina
6)    Membentuk suasana yang harmonis demi meningkatkan kerjasama dan pengertian di antara sesama negara anggota OKI maupun negara-negara lain
7)    Memperkuat perjuangan Islam untuk melindungi martabat umat, tidak ketergantungan, dan hak setiap negara Islam
 6.       NATO (North Atlantic Treaty Organization)
 Negara Eropa Barat membentuk kerjasama bidang militer. Pada tanggal 4 April 1949 di Washing­ton didirikan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) guna menghadapi kemungkinan serangan komunis di wilayah Atlantik Utara. Anggota NATO adalah Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman Barat, Belgia, Luxemburg, Norwegia, Eslandia, Denmark, Portugal, Italia, Yunani, Polandia, Hongaria, Cekoslovakia. Markasnya terletak di Belgia (Brussel).
 Tujuan NATO adalah:
 1)     Menyelesaikan persengketaan secara damai
 2)     Tidak menggunakan ancaman militer dalam halangan internasional
3)     Membela negara anggota dengan pendirian bahwa ancaman pada satu anggota merupakan ancaman seluruh NATO
 4)     Menghilangkan persengketaan politik internasional.
 7.          Gerakan Non Blok (Non Aligned Movement)
 Pada tahun 1955 berlangsung Konferensi Asia Afrika di Bandung yang diikuti oleh negara-negara yang pernah mengalami penjajahan oleh bangsa Barat. Berangkat dari pengalaman dijajah itu, maka negara-negara peserta sepakat menggalang solidaritas negara-negara yang barn merdeka di Asia Afrika dan Amerika Latin. Pada saat itu situasi politik dunia sedang didominasi oleh dua blok yakni Blok Barat menganut liberalisme di bawah Amerika Serikat dan Blok Timur menganut Sosialisme di bawah Uni Sovyet. Persaingan dua blok itu mengakibatkan perang dingin yang mengkhawatirkan keselamatan perdamaian dunia sehingga untuk mengimbanginya dibentuklah organisasi yang tidal( berpihak pada kedua blok tersebut pada tahun 1960 disebut Gerakan Non Blok
. Tokoh penggagas Gerakan Non Blok adalah:
1.      Presiden Soekamo (Indonesia)
 2.      Presiden Joseph Broz Tito (Yugoslavia)
 3.      Presiden Gamal Abdul Nasser (Mesir)
 4.      Perdana Menteri Pandit Jawaharlal Nehru (India) Keikutsertaan Indonesia dalam penggagas, perintis dan pendiri GNB disebabkan oleh kesesuaian prinsip gerakan ini dengan politik luar negeri bebas aktif
. Tujuan GNB:
1.      Mendukung perjuangan dekolonisasi memegang teguh perjuangan melawan imperialisme; kolonialisme, neokolonialisme, rasialisme, apartheid dan zionisme.
2.      Merupakan wadah perjuangan sosial politik negara-negara yang sedang berkembang Lahirnya Gerakan Non Blok diawali dengan adanya Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, yang menghasilkan Dasasila Bandung
. Adanya Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok menunjukkan hubungan yang semakin erat antar bangsa-bangsa di wilayah Asia dan Afrika. Bagi Indonesia sebagai pelopor KAA dan GNB keikutsertaan dalam pertemuan tersebut merupakan wujud nyata dari tujuan Nasional ikut serta menciptakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdarnaian abadi dan keadilan sosial

Read more at: 
http://jenemeks.blogspot.com/2012/04/macam-macam-organisasi-internasional.html
Copyright http://www.kewarganegaraan-rosi.blogspot.com/ Under Common Share Alike Atribution